Sabtu, 22 Januari 2011

Perbedaan 'di' sebagai Kata Depan dan 'di-' sebagai Imbuhan

‘Buku itu di baca Adi.’
‘Dia ada dirumah.'

Kalian merasa ganjil tidak dengan dua kalimat di atas? Kalau saya…? Hmm … tidak hanya merasa aneh, tapi benci!!! Entah mengapa, setiap melihat kalimat semacam itu saya merasa kurang ’sreg’, dan merutuk dalam hati, ‘Siapa sih yang menulis kalimat itu? Masa’ penggunaan ‘di-‘ sebagai imbuhan dan ‘di’ sebagai kata depan saja salah? Padahal itu kan hal yang sangat mudah, dan sudah seharusnya diketahui semua orang yang mengenal—benar-benar mengenal bahasa Indonesia. Kalau imbuhan dan kata depan saja tidak bisa, berarti tidak memahami bahasa Indonesia dengan baik.

Teman-teman, saya tidak berniat menyinggung siapa pun. Tetapi saya merasa geram. Kata depan dan imbuhan adalah pelajaran paling dasar yang diajarkan dalam bahasa Indonesia. Tapi, kok, masih banyak orang yang salah dalam menggunakannya? Kalau menurut saya, itu adalah hal yang sangat mudah.

Pada kalimat pertama, ‘di-‘ yang digunakan adalah sebagai imbuhan—awalan—bukan sebagai kata depan, jadi, harus dirangkai dalam satu kata dengan kata dasar yang mengikutinya; dengan kata lain, dijadikan satu kata. Kata dasar yang mengikutinya adalah kata kerja. Jika awalan ‘di-‘ dirangkaikan dengan kata dasar yang ada, maka akan membentuk sebuah kata yang merujuk pada kata pasif, lawan dari aktif. Dan kata aktif, adalah kata dasar yang diberi imbuhan ‘me-’ atau ‘ber-‘.

Contoh:
> Awalan ‘di-‘ ditambahkan pada kata dasar ‘makan’; dimakan. Dan ‘dimakan’ adalah kata pasif, dengan makna ‘diapakan-obyek-itu’.

> Awalan ‘me-‘ ditambahkan pada kata dasar ‘makan’; memakan. Dan ‘memakan’ adalah kata aktif, dengan makna ‘apa-yang-sedang-dilakukan‘

Nah, sudah paham? Sekarang kita bahas mengenai kata depan ‘di’.

Kata depan ‘di’ (bukan imbuhan) digunakan untuk menunjukkan tempat. Saya rasa semua orang sudah memahaminya. Tapi, saya tetap akan menjelaskannya di sini. ‘Di’ sebagai kata depan selalu diikuti dengan nama tempat, atau kata yang menunjukkan tempat atau lokasi di mana obyek/subyek berada. Penulisan ‘di’ tersebut selalu terpisah dengan nama tempat yang mengikutinya; dengan kata lain, dijadikan dua kata.

Contoh:
> Kata depan ‘di’ ditambahkan pada kata ‘pasar’ (nama tempat); di pasar. Dan ‘di pasar’ menunjukkan suatu obyek/subyek ada di sana; pasar.

Sudah paham, kan? Kesimpulannya, ‘di-‘ yang diikuti kata kerja harus ditulis terangkai; ‘di’ yang diikuti nama tempat ditulis terpisah. Setelah membaca artikel ini, seharusnya tidak akan lagi terjadi kesalahan-kesalahan konyol seperti di atas.

Oke, sampai jumpa!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

What do you think about this post?